research methodology about Research Problem

BAB I
PENDAHULUAN

Sebagaimana penelitian dilakukan oleh para peneliti, hal ini mereka lakukan tidak hanya untuk menyelesaikan suatu persoalan, tetapi adakalanya penelitian dilakukan oleh orang-orang adalah untuk menemukan sesuatu hal baru yang dapat mengembangkan ilmu pengetahuan. Sebelum seorang peneliti melakukan penelitian tersebut, tentu harus didahului sebuah permasalahan. Sehingga mereka tahu akan apa yang akan ia pecahkan. Sebab penelitian merupakan suatu kegiatan yang tidak mengada-ada. Oleh sebab itu, seorang peneliti membutuhkan suatu permasalahan yang tepat untuk diteliti dan dapat dipecahkan.
Menurut Hadi yang dikutip oleh Narbuko dan Achmadi (1997 : 2), sesuai dengan tujuannya, penelitian adalah usaha untuk menemukan, mengembangkan dan menguji kebenaran suatu pengetahuan. Berdasarkan pengertian tersebut, maka metodologi penelitian dapat diartikan sebagai ilmu yang mempelajari cara-cara melaksanakan penelitian secara ilmiah melalui tahapan-tahapan yang sistematis, mulai dari mencari, mencatat, merumuskan, menganalisis sampai menyusun laporannya, sehingga dapat digunakan untuk menemukan, mengembangkan dan menguji kebenaran suatu pengetahuan.
Sebagaiman yang telah dijelaskan sebelumnya, pada dasarnya penelitian merupakan suatu kegiatan pemecahan permasalahan. Oleh karena itu keberadaan permasalahan suatu hal yang tidak dapat ditawar lagi. Namun demikian, sebelum seseorang menelliti sesuatu tentulah harus mampu merumuskan permasalahan apa yang akan ia teliti dan pecahkan. Sebuah usaha dalam menentukan dan merumuskan suatu permasalahan memiliki beberapa hal yang harus diperhatikan agar masalah yang diteliti tidak keluar dari pokok pembicaraan.

BAB II
RESEARCH PROBLEM
(MASALAH PENELITIAN)

Kegiatan penelitian dilakukan selain untuk mencapai hasil yang diinginkan dalam tujuan penelitian, juga untuk mengetahui kebenaran atau ketidakbenaran suatu objek tertentu namun pada dasarnya perlu dilakukan penelitian adalah untuk memecahkan permasalahan. Permasalahan adalah rintangan yang dihadapi dan memerlukan pemecahan (Subagyo, 2006: 79). Keadaan yang demikian dapat dilalui dengan aktifitas yang sadar guna mendapat tanggapan terhadap kesulitan yang dihadapi untuk mencapai langkah berikut. Menurut Notoatmodjo (2002) masalah penelitian secara umum dapat diartikan sebagi suatu kesenjangan (gap) antara yang seharusnya dengan apa yang terjadi tentang sesuatu hal, atau antara kenyataan yang ada atau terjadi dengan yang seharusnya ada atau terjadi serta antara harapan dan kenyataan.
Sehubungan dengan pengertian tersebut, sebagaimana yang dituliskan dalam website http://www.nmmu.ac.za/robert/resprobl.htm, menyatakan pengertian research problem adalah:
A research problem is the situation that causes the researcher to feel apprehensive, confused and ill at ease. It is the demarcation of a problem area within a certain context involving the WHO or WHAT, the WHERE, the WHEN and the WHY of the problem situation.
(Sebuah masalah penelitian adalah situasi yang menyebabkan peneliti merasakan khawatir, ragu, dan keliru pada situasi yang biasa-biasa saja. Pembatasan permasalahan dalam sebuah konteks tertentu menyangkut pertanyaan Siapa atau Apa, Dimana, Kapan dan Mengapa dari situasi permasalahan twersebut)
Permasalahan yang dijadikan sasaran untuk pemecahan dalam mencari ada atau tidak adanya suatu kebenaran dalam kaitannya dengan teori atau pengalaman, dapat dijadikan sebagai patokan dan sekaligus ruang lingkup pembehasan dalam kaitannya dengan pencarian data.
Permasalahn sebagai kunci untuk untuk pencarian data sehingga menentukan:
1. Ruang lingkup pemkiran
2. Arah gerak penelitian
3. Pembuatan instrument
4. Analisa
5. Tujuan penelitian

Menurut MOh. Nazir, Ph.D sebagaimana yang dikutip oleh Subagyo (2006 : 80), tujuan dari penelitian serta perumusan masalah adalah untuk:
• Mencari sesuatu dalam rangka perumusan akademis seseorang
• Memusatkan perhatian serta keingintahuan seseorang akan hal-hal yang baru
• Meletakkan dasar untuk memecahkan beberapa penemuan penelitian sebelumnya ataupun dasar untuk penelitian selanjutnya.
• Memenuhi keinginan sosial.
• Menyediakan sesuatu yang bermanfaat.

Menurut Moleong (1995 : 62), masalah adalah lebih dari sekedar pertanyaan, dan jelas berbeda dengan tujuan. Sebagaimana menurut Guba dan Lincolnyang dikutip oleh Moleong, masalah adalah suatu keadaan yang bersumber dari hubungan antara dua factor atau lebih yang menghasilkan situasi yang membingungkan.

A. SUMBER PERMASALAHAN
Permasalahan dalam penyusunannya dilakukan secara terencana dengan memenuhi harapan yang lebih sistematis untuk menghindari segala kemungkinan yang akan menimbulkan ketidakseimbangan atau ketimpangan yang terjadi.
Berhubungan dengan perumusan permasalahan, Subagyo (2006 : 80) menyatakan ada beberapa macam sumber :
1. Teori
Penelitian bersumber pada teori dapat dipakai sebagai hipotesa yaiitu untuk menguji kebenaran hipotesa atau ingin mencari hal lain dengan operasi awal teori tersebut.
2. Dekomen
Dokumen dapat berasal dari dokumen pribadi yaitu setiap catatan yang menggambarkan suatu peristiwa diangap penting pada momen tertentu dibuat secara pribadi, dan kedua adalah dokumen tentang catatan atau data pribadi yang menggambarkan suatu peristiwa atau kejadian meupun dokumen pribadi leinnya tidak disimpan secara pribadi melainkan berada pada file-file instansi dan sagainya.
3. Pengalaman pribadi
Pengalaman pribadi merupakan sumber inspirasi dalam merumuskan permasalahan, yang sengaja dari awal diciptakan atau dapat pula karena serangkaian tidakan sehari yang merupakan tidakan rutin, baik utnuk kepentingan pribadi atau bukan misalnya, pengalaman ke daerah tanpa membawa misi tertentu.
4. Tingkah laku manusia
Kegiatan berupa tinkah laku masusia sangat beraneka ragam, ada yang menarik untuk dikatahui lebih lanbjut meskipun secara sepintas dapat diketahui kegiannya merupakan tindakan wajar. Pengamatan sepintas terhadap tindakan manusia dapat memancing inspirasi atau sumberr ide dari masalajh yang akan diteliti. Pengamatan ini dapat dilenhgkai dengan sarana seperti, TV, gamba-gambar, poster dan sebaginya. Ataupun dapat dilakukan secara langsung tanpa sarana apapun.
5. Hasil penelitian, seminar, kegiatan ilmiah lainnya
Sebagai sumber permasalahan kegiatan inhi dilkaukan nutk membahas dan membicarakan permasalahan yang sudah ada, bahkan kemungkinan telah dipecahkan.

Berhubungan dengan bagaimana memunculkam permasalahan, McGuigan (dikutip oleh Mahsun, 2005 : 5) menyatakan ada tiga keadaan yang dapat memunculkan permasalahan, yaitu :
a. Ada informasi yang mengakibatkan munculnya kesenjangan dalam pengetahuan kita, yaitu kesenjangan antara teori yang diketahui dengan bukti-bukti empiris yang teramati.
b. Ada hasil-hasil (penelitian) yang bertentangan;
c. Ada suatu kenyataan dan kita bermakud menjelakannya melalui penelitian.

Selain beberapa macam sumber masalah yang telah dikemukakan sebelumnya, berbeda dengan Suryabrata (2005 : 13) menyatakan ada beberapa hal yang dapat menjadi sumber masalah, yakni :
1. Bacaan, terutama bacaan yang melaporkan hasil penelitian. Hal ini karena laporan penelitian yang baik tentu akan mencantumkan rekomendasi untuk peneltian lebih lanjut dengan arah tertentu. Hal ini dikarenakan kadangkala penelitian menampilkan masalah lebih banyak daripada jawabannya. Ataupun bersumber dari buku yang memuat generalisasi dari teori-teori yang dapat dijadikan acuan dalam penetapan masalah (Syamsudin; 2007 : 46).
2. Diskusi, seminar dan pertemuan ilmiah juga merupakan sumber masalah penelitian, karena pada umumnya peserta melihat hal-hal yang dipersoalkannya secara personal.
3. Pernyataan pemegang otoritas, baik pemegang otoritas dalam pemeintahan maupun dalam bidang ilmu tertentu, dapat menjadi sumber masalah. Misalnya pernyataan Mentri Pendidikan Nasional menyenai rendahnya daya serap murid SMA atau perguruan tinggi dapat mengundang berbagai penelitian.
4. Pengamatan sepintas dapat menjadi sumber masalah. Misalnya ada seorang ahli tanah yang sedang berangkat ke suatu tempat. Kenudia tanpa sengaja ia melihat ada hal yang harus diteliti ataupun seorang guru dapat melakukan pengamatan sepintas terhadapat pendidikan di suatu tempat misalnya.
5. Pengalaman pribadi dapat menjadi sumber masalah penelitian. Misalnya tentang pengalaman pribadi yang berkaitan dengan sejarah perkembangan dan kehidupan pribadi.
6. Perasaan intuitif. Tidak jarang terjadi, masalah penelitian itu muncul dalam pikiran ilmuwan pada pagi hari setekah bangun tidur atau setelah istirahat. Rupanya ada semacam konsolidasi atau pengendapan berbagai informasi yang berkaitan dengan masalah yang akan diteliti itu.

Meskipun masalah penelitian itu selalu ada dan banyak, menurut Notoatmodjo (2002) sebagaimana yang dikutip oleh Yektiningtyastuti (2008) belum tentu mudah mengangkatnya sebagai masalah penelitian, diperlukan kepekaan terhadap masalah penelitian. Kepekaan ini dipengaruhi oleh minat dan pengetahuan atau keahlian. Minat dan pengetahuan atau keahlian itu dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain :

1. Profesi
Profesi atau bidang pekerjaan seseorang dapat menjadi sumber minat untuk melakukan penelitian. Semakin sering seseorang terpapar dengan masalah-masalah yang berkaitan dengan profesinya, akan semakin mendorong orang tersebut berminat untuk menyelesaikannya.
2. Spesialisasi
Keahlian khusus seseorang akan menyebabkan orang tersebut lebih peka tehadap masalah yang berkaitan dengan keahliannya. Misalnya, seorang perawat spesialis jiwa, akan lebih peka terhadap masalah-masalah kesehatan jiwa pasien yang dirawatnya, meskipun pasien tersebut dirawat di rumah sakit umum dengan bukan karena gangguan jiwa. Sebagai contoh, ketika seorang pearwat spesialis jiwa, menemukan pasien yang akan dioperasi terlihat gelisah, maka dengan cepat perawat tersebut akan dapat melihat bahwa pasiennya sedang mengalami kecemasan berat.
3. Akademis
Seseorang yang telah mengalami program pendidikan yang lebih tinggi, biasanya telah mendalami tentang salah satu disiplin ilmu pengetahuan. Dengan penguasaan ilmu ini, orang tersebut cenderung lebih peka mengenali masalah dalam bidang keahliannya.
4. Kebutuhan dan praktik kehidupan sehari-hari
Seseorang yang cenderung menaruh perhatian akan kebutuhan dan praktik kehidupan sehari-hari akan lebih peka terhadap masalah yang muncul.
5. Pengalaman lapangan
Seseorang yang mempunyai banyak pengalaman lapangan akan menambah kepekaannya terhadap masalah di bidangnya.
6. Bahan bacaan atau kepustakaan
Membaca dapat meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berpikir seseorang, sehingga wawasannya akan semakin luas dan semakin mampu menggunakan penalaran dan pola berpikir kritisnya semakin berkembang. Dengan berpikir kritis ini, selanjutnya akan meningkatkan kepekaan seseorang terhadap masalah.

Ada beberapa hal yang perlu mendapat perhatian dalam merumuskan permasalahan antara lain:
 Dengan diangkatnya topic tertentu sebagai permasalahan, masalah tersebut tidak dapat diuji secara empiris. Dengan kata lain bahwa tidak setia permasalahan dapat diuji secara empiris terutama apabila peneltian yang hendak dilakukan berkaitan dengan masalah moral atau keyakinan/jiwa.
 Didapatinya permasalahan yang berasal dari sumber-sumber di atas sehingga dapat memberikan deskripsi namun dalam prosesnya menemui kesukaran karena kuranya pengetahuan dari sumber-sumber relevan.
 Setelah dijumpai permasalahannya dan dapat digambarkan secara makro, namun unuk menguji dan menjawabnya kurang mendapat dukungan data dikarenakan langkanya data.
 Ada masalah menarik perhatian yang diperoleh secara selektif, karena tidak ada tujuan dalam memilih masalah tersebut sehingga gambaran lebih lanjut akan menemui kekaburan.
Yang utama untuk mengatasi kesulitan tersebut dengan mempertegas skop bahasan agar memperoleh gambaran yang pasti.
Sebagaimana yang dikemukakan oleh Rosita (2010), ada dua pendekatan bagaimana menemukan suatu permasalahan tersebut, secara umum dapat dibagi menjadi dua pendekatan, yakni:
a. Pendekatan Formal
Ada beberapa macam metode dalam pendekatan formal ini , yaitu:
1. Metode Analog (analog method)
Metode ini menggunakan pengetahuan yang diperoleh dari hasil penelitian pada bidang tertentu untuk menemukan masalah penelitian pada bidang lain yang terkait.
2. Metode renovasi (renovation method)
Masalah penelitian ditentukan dengan cara memperbaiki atau mengganti komponen teori atau metode yang kurang relevan dengan komponen teori atau metode lain yang lebih efektif.
3. Metode dialektis
Metode ini menemukan masalah dengan mengajukan usulan pengembangan terhadap teori atau metode yang telah ada.
4. Metode morfologi
Metode untuk menemukan masalah dengan menganalisis berbagai kemungkinan kombinasi bidang masalah penelitian yang saling berhubungan dalam bentuk matrik.

5. Metode dekomposisi
Menemukan masalah dengan cara membagi masalah ke dalam elemen-elemen yang lebih spesifik.
6. Metode agregasi
Menemukan masalah dengan menggunakan hasil penelitian atau teori dari berbagai bidang penelitian yang berbeda.

b. Pendekatan informal
Adapun metode-metode pada pendekatan informal ini yakni:
1. Metode perkiraan (conjecture method)
Masalah penelitian berdasarkan intuisi pembuat keputusan mengenai situasi tertentu yang diperkirakan mempunyai potensi masalah
2. Metode Fenomenologi
Menemukan masalah berdasarkan hasil observasi terhadap fakta atau kejadian
3. Metode consensus (consensus method)
Masalah penelitian berdasarkan adanya konsensus atau konvensi dalam praktik bisnis.
4. Metode pengalaman (experiences method)
Masalah penelitian berdasarkan pengalaman perusahaan atau orang-orang dalam perusahaan, dalam arti penelitian yang dilakukan berdasarkan pengalaman sesorang terhadap suatu bidang yang pernah ia jalani sebelumnya.

B. PEMILIHAN MASALAH
Setelah masalah diidentifikasi, belum merupakan jaminan bahwa masalah tersebut layak dan sesuai untuk diteliti. Biasanya dalam usaha mengidentifikasikan atau mememukan masalah penelitian ditemukan lebih dari satu masalah. Dari masalah-masalah perlu dipilih salah satu, yaitu mana yang paling layak dan sesuai utnuk diteliti. Jika yang ditemukan itu sekiranya hanya satu masalah, masalah tersebut juga harus dipertimbangkan layak dan tidaknya serta sesuai dan tidaknya untuk diteliti. Pertmbangan utnk memilih atau menetntukan apakah sesuatu masalah layak dan sesuai untuk diteliti, menurut Suryabrata (2005 : 16), pada dasarnya dilakukan dua arah:

1. Pertimbangan dari Arah Masalahanya
Untuk menentukan apakah sesuatu masalah layak untuk diteliti perlu dibuat pertimbangan-pertimbangan dari arah masalahnya atau dari sudut objecti. Dari sudut ibjektif ini, pertimbangan akan dibuat atas dasar sejauh mana penelitian mengnai masalah yang bersangkutan itu akan memberikan sumbangan kepada:
a. Pengembangan teori dalam bidang yang bersangkutan dengan dasar teoretis penelitiannya,
b. Pemecahan masalah-masalah praktis.
Jelaslah bahwa kelayakan sesuatu masalah untuk diteliti itu sifatnya relative, tergantung pada konteksnya. Disamping itu, masalah itu hendaklah mungkin dilakukan pengumpulan data guna memecahkan masalah itu atau menjawab pertanyaan-pertanyaan yang terkandung di dalamnya.

2. Pertimbangan dari Arah Calon Peneliti
Dari segi subjektif, calon peneliti, perlu dipertimbangkan apakah masalah itu sesuai dengan calon peneliti. Hal ini tergantung pada apakah masalah tersebut manageable atau tidak oleh si calon peneliti. Manageability itu terutama dilihat dari lima segi, yaitu:
a. Biaya yang tersedia,
b. Waktu yang dapat diperguanakan,
c. Alat-alat dan perlengkapan yang tersedia,
d. Bekal kemampuan teoritis,
e. Penguasaan metode yang diperlukan.

C. PERUMUSAN MASALAH
Setelah diperoleh permasalahna yang berasal dari sumber tertentu kemudian diformulasikan untuk mendapat identitas arah dan tujuan, sehingga tidak akan menimbulkan keraguan dalam berpikir pada arah yang dimaksud. Dalam merumuskan masalah dapat diperhatikan adanya beberapa syarat dengan mempertimbangkan kemapuan peneliti, daya nalar serta cocok dengan bidang kemampuannya. Suryabrata (2005 : 17) mengemukakan bahwa tidak ada aturan umum mengenai cara merumuskan masalah itu, namun dapat disarankan hal-hal berikut:
1. Masalah hendaknya dirumuskan dalam bentuk kalimat tanya,
2. Rumusan itu hendaklah padat dan jelas,
3. Rumusan itu hendaklah memberi petunjuk tentang mungkinnya mengumpulkan data guna menjawab pertanyaan-pertanyaan yang terkandung dalam rumusan itu.

Lebih lanjut, Subagyo (2006 : 82) menerangkan syarat yang dimaksud dalam perumusan masalah tersebut pada umunya dengan memenuhi simple antara lain sebagai berikut:
1. Dirumuskan dalam bentuk pertanyaan.
2. Dirumuskan dalam susunan kalimat yang sederhana dan mengurangi penggunaan istilah dalam istilah belum baku.
3. Dirumuskan secara singkat, jelas, padat, tidak menimbulkan keransuan pengertian.
4. Perumusan harus mencerminkan keinginan yang hendak dicari.
5. Perumusan tidak memperulit dalam pencarian data lapangan terutama terhadap data langka.
6. Rumusannya dapat dipakai sebagai dasar dalam perumusan hipotesa, untuk menjaga kemungkinan keinginan dari peneliti lain yang hendak menguji permasalahan tersebut.
7. Karena permasalahan dapat dijadikan dasar dalam penyusunan judul maka perumusannya harus dapat direfleksikan kedalam judulnya.

Selanjutnya Syamsuddin dan Damaianti (2007 : 42), menjelaskan ada beberapa kriteria dalam menetepkan suatu masalah, yaitu:
1. Apakah masalah ini berguna untuk dipecahkan?
2. Apakah masalah dapat diteliti?
3. Apakah terdapat kemampuan yang dipunyai peneliti untuk pemecahan masalah ini?
4. Apakah masalah itu sendiri menarik untuk dipecahkan?
5. Apakah masalah ini memberikan sesuatu yang beru?
6. Apakah maslah itu terbatas sehingga jelas?

Untuk menhindari kesukaran dalam pencarian data atau menyeleksi data serta menghindari kekeliruan karena kerancuan, maka janganlah diambil permasalahan yang terlalu umum atau sebaliknya. Kedua keadaan ini akan menpengaruhi hasil penelitian, juga kurangnya persiapan penguasaan materi penelitian.
Untuk permasalahan terlalu umum, banyak data yang seharusnya tidak perlu dicari, setelah dilakukan seleksi data,banyak yang tidak terpakai karena tidak dapat dipergunakan untuk membahas permasalahan ini. Sedangkan permasalahan yang terlalu sempit, sempitnya permasalahan data pun tidak sebanyak pada permasalahan yang lebih luas, dalam hal ini peneliti dituntut penguasaan materi yang lebih detail. Kurangnya perhatian peneliti terhadap permasalahan mengakibatkan data terkumpul sangat minim sekali.
Contoh permasalahan
Dalam memformulasikan permasalahan, misalnya ide permasalahan hanya tentang Kesadaran Hukum Masyarakat, bahwa Pembangunan Hukum di Indonesia tidak hanya ditujukan pada pembinaan tata hukum masyarakat dan lebih lanjut untuk memantapkan stabilitas nasional.
Dapatlah disusun rumusan permasalahan sebagai berikut:
1. Sejauh manakah perubahan sikap masyarakat setelah penyuluhan hukum dilakukan.
2. Bagaimanakah tanggapan masyarakat terhadap program penyuluhan hukum.
3. Factor-faktor yang memperlancar/menghambat pelaksanaan penyuluhan hukum.

Dari pemasalahan tersebut mendapat gambaran jelas hubungan antara dua masalah yaitu:
• Kesadaran hukum masyarakat, dan
• Penyuluhan hukum
Maka dapatlah ditarik suatu judul/topic penelitian :
1. Manfaat penyuluhan hukum di dalam meningkatkan kesadaran hukum masyarakat.
2. Kesadaran hukum masyarakat dikaitkan dengan program penyuluhan hukum.
Ada dua sisi permasalahan yang harus dilihat dari kesadaran hukum masyarakat ini sendiri, keadaan sebelum adanya penyuluhan hukum dan setelah adanya penyuluhan hukum. Selain itu yang harus mendapatkan perhatian adalah penyuluhan hukumnya: bagaimana pelaksanaannya, bagaimana programnya, apa materinya dan sebagainya. Untuk pelaksanaannya selain dilihat aparat penyuluhannya sendiri juga masyarakatnya. Setiap kegiatan penyuluhan berkaitan respon masyarakat atas penyuluhan tersebut dan perlu dikaji lebih jauh.
• Apakah materinya dapat diterima oleh masyarakat atau tidak,
• Apakah waktunya sudah sesuai dengan keinginan masyarakat
• Tempat pelaksanaannya dapat dimaklumi masyarakat setempat atau tidak, dan sebaginya.
Dari permasalahan-permasalahan tersebut di atas yang ditimbulkan dalam pelaksanaan untuk mencapai penegakkan hukum yang memadai, agar masyarakat mapan dalam sikap tindak dan tutur kata, yang merupakan tujuan akhir program.
Adapun contoh lain dari permasalahan, yakni :
• Apakah mengajar dengan metode dikusi lebih berhasil daripada mengajar dengan metode ceramah?
• Bagaimanakah hubungan antara IQ dengan prestasi belajar di perguruan tinggi?
• Apakah mahasiswa yang tinggi nilai ujian masuknya juga tinggi indeks prestasi belajarnya?
• Apakah mahasiswa wanita lebih konformistik daripada mahasiswa pria?
• Apakah mahasiswa Jurusan Bahasa Inggris berasal dari program IPA berbeda prestasi belajarnya dari mereka yang berasal dari program IPS?

D. PENDORONG BERHASILNYA PENELITIAN
Menurut Subagyo (2006 : 84), pada dasarnya penelitian akan menghasilkan suatu karya yang diharapkan apabila:
1. Penguasaaan teori
2. Pengambilan metode yang tepat
3. Biaya yang cukup
4. Waktu yang cukup
5. Tenaga (personil) memadai

Hal-hal tersebut sangat erat kaitannya dengan kegiatan teknis penelitian. Sedangkan hal-hal nonteknis yang dapat menunjang berhasilnya penelitian antara lain:
1. Menariknya suatu permasalahan dalam penelitian.
2. Sesuai dengan bidang / kemampuannya.
3. Sulitnya memperoleh data penunjang.
4. Wajar.

Dalam mengambil permasalahan hindarkan dari keadaan yang akan mempersulit diri sendiri terutama penelitian yang dilakukan dan diselasaikan sendiri. Penelitian yang dianggap kuran wajar, misalnya permasalahannya bertentangan dengan adat istiadat setempat atau bertentangan dengan kebijaksanaan yang telah dipakai dan dibenarkan oleh kelompoknya. Dengan memperhatikan hal tersebut, hal yang bersifat nonteknis tersebut bukan berarti akan mempengaruhi sifat keilmiahannya, kurang berkualitas, tidak dapat membriakan masukan atau sudah usang, meainkan semuanya akan tercakup apabila memperhatikan metode dasar penelitian dan ditunjang dengan teori lainnya.

BAB III
KESIMPULAN

Masalah ilmiah, apabila selalu mendasarkan pada pemikiran logis dan tidak terpengaruh, maka akan dapat menerapkan prinsip-prinsip yang logis pula. Manurut Almack yang dikutip oleh Subagyo (85), metode ilmiah adalah cara menerangkan prinsip-prinsip logis terhadap penemuan, pengesahan dan penyelesaian kebenaran, sedangkan menurut Ostle, metode ilmiah adalah pengejaran terhadap sesuatu untuk memperoleh sesuatu interelasi.
Sebagaimana yang dijelaskan sebelumnya, bahwa masalah adalah celah (gap) antara kenyataan yang tejadi di lapangan dengan hal-hal yang direncanakan sebelumnya. Sebagai contoh di dalam dunia pendidikan, adanya kurikulum ideal (apa yang dicita-citakan dalam suatu pembelajaran) akan tercapai setelah pembelajaran dilaksanakan, namun ada sesuatu hal yang membuat perencanaan tersebut tidak tercapai ebagaimana mestinya. Pemisah antara kedua hal itulah merupakan masalah. Dengan demikian, masalah yang ilmiah tersebut seharusnya dapat diselesaikan dengan logis dan objektif, sehingga dapat menghasilkan suatu penyelesaian terhadap masalah tersebut.

DAFTAR KEPUSTAKAAN

Koentjaraningrat. 1983. Metode-metode Penelitian Masyarakat. Jakarta : PT. Gramedia.
Mahsun. 2005. Metode Penelitian Bahasa. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.
Subagyo, P. Joko. 2006. Metode Penelitian. Jakarta : PT. Rineka Cipta.
Suryabrata, Sumadi. 2005. Metodologi Penenlitian. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.
Syamsuddin. Damaianti, Vismaia S. 2007. Metode Penelitian Pendidikan Bahasa. Bandung : PT. Remaja Rusda karya.
Yektiningtyastuti. 2008. Memilih dan Merumuskan Masalah. Diposkan pada http://rofiqahmad.wordpress.com/2008/01/24/memilih-dan-merumuskan-masalah-penelitian/

http://www.nmmu.ac.za/robert/resprobl.htm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s