Kompetensi profesionalisme guru

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. LATAR BELAKANG
Pendidikan merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan. Dengan pendidikan seseorang dapat melakukan banyak hal di dunia ini, dengan pendidikan orang dapat mengetahui perkembangan dunia ini, serta dengan pendidikan seseorang dapat berubah derajat dan martabatnya dengan orang lain yang tidak mendapat pendidikan yang layak. Bahkan dengan pendidikan dapat merubah derajat dan martabat suatu negara, sehingga negara itu terpandang dan maju di segala bidang, baik itu di bidang ekonomi, politik, budaya, sosial, bahkan ilmu pengetahuan dan lain sebagainya. Namun demikian, sebagai negaara terbesar kelima di dunia, Indonesia harus memperbaiki mutu pendidikan yang ada di negara ini. Berdasarkan survei, Human Developement Indext (HDI) Indonesia masih rendah, pada tahun 2004 Indonesia berada pada peringkat 111 dan pada tahun 2005 pada peringkat 110 masih dibawah Vietnem pada peringkat 108 dari 117 negara yang disurvei.
Berikut adalah tabel ranking indonesia berdasarkan HDI dibandingkan beberapa negara tahun 1995, 2000, 2003, 2004 dan 2005:
No. Negara Tahun
1995 2000 2003 2004 2005
1 Thailand 58 76 74 76 73
2 Malaysia 59 61 58 59 61
3 Philipina 100 77 85 83 84
4 Indonesia 104 109 112 111 110
5 China 111 99 104 94 85
6 Vietnam 120 108 109 112 108
Menurut data terbaru, Indonesia menjadi negara dengan kualias SDM yang memprihatinkan. Berdasarkan HDI tahun 2007, Indonesia berada diperingkat 107 dunia dari 177 negara. Bila dibandingkan dengan negara sekitar, tingkat HDI Indonesia jauh tertinggal. Contoh Malaysia berada diperingkat 63, Thailand 78, dan Singapura 25. Indonesia hanya lebih baik dari Papua Nugini dan Timor Leste yang berada diposisi 145 dan 150.
HDI merupakan potret tahunan untuk melihat perkembangan manusia di suatu negara. HDI adalah kumpulan penilaian dari 3 kategori, yakni kesehatan, pendidikan dan ekonomi. Menjadi jelaslah bahwa, sudah saatnya Indonesia menjadikan sektor pendidikan sebagai prioritas utama dalam program pembangunan. Apabilah hal ini tidak dibenahi, bukan hal mustahil daya saing dan kualitas manusia Indonesia akan lebih rendah dari negara yang baru saja merdeka seperti Vietnam atau Timor Leste.
Dari data tersebut menunjukkan bahwa sumber daya manusia indonesia masih rendah karena banyak hal yang mempengaruhinya. Pendidikan merupakan satu di antara beberapa faktor yan menyebabkannya, bahkan bisa dikatakan menjadi faktor yang utama. Jika kita bandingkan dengan negara tetangga seperti Vietnam, Malaysia, Philipina sudah semakin jauh meninggalkan Indonesia. Apalagi dahulu orang mengatakan bahwa banyak orang malaysia datang ke Indonesia untuk belajar, namun pada hal nya sekarang Malaysia pun sudah jauh meninggalkan Indonesia, dilihat dari kualitas sumber daya manusianya pada tabel di atas.
Sebagaimana yang telah disebutkan di awal, majunya suatu negara sangat tergantung pada pendidikan yang ada di negara itu. Satu di antara faktor majunya pendidikan adalah guru yang melaksanakan kegiatan belajar mengajar atau disebut dengan teknisi pendidikan. Sebagai teknisi pendidikan, ada beberapa kriteria, syarat, atau kualifikasi yang harus dipenuhi agar menjadi seorang guru. Menjadi seorang guru tidak hanya sebatas seorang guru saja dengan mendapatkan ijazah, namun menjadi seorang guru yang profesional memiliki banyak kompetensi yang harus ia miliki. Untuk mencapai bagaimana seseorang bisa menjadi seorang guru profesional, tentunya harus memiliki kompetensi-kompetensi agar dapat menjadi guru yang profesional.
Ada beberapa kompetensi yang harus ada pada seorang guru yang profesional. Kompetensi profesional merupakan satu di antara kompetensi yang harus ada pada seorang guru yang profesional. Berdasarkan data Balitbang Depdiknas (1999) menunjukkan dari peserta calon tes guru PNS setelah dilakukan tes bidang studi ternyata rata-rata skor tesnya sangat rendah. Hal ini menunjukkan bahwa kompetensi profesional atau akademik seorang calon guru sangat rendah. Sehingga sulit baginya menjadi guru yang profesional dan guru yang ideal yang memiliki segala kompetensi yang ada, baik paedagogik, kepribadian, sosial dan profesional.
Dari fenomena inilah penulis melandaskan masalah yang ada di dalam makalah ini. Bagaimana seorang guru yang profesional memiliki kompetensi yang ada dapat mengoptimalkan pendidikan di Indonesia. Khususnya kompetensi profesional yang dimiliki oleh seorang guru. Dari data tersebut sekurang-kurangnya menunjukkan kepada kita bahwa kompetensi akademik guru di Indonesia masih rendah. Dan penulis akan mencoba menyajikan bagaimana seharusnya kompetensi seorang guru yang profesional dan bagaimana cara meningkatkannya. Semua hal ini didasarkan atas semua fenomena yang terjadi pada pendidikan di Indonesia. Tidak dapat dipungkiri bahwa kualitas pendidikan di Indonesia masih jauh tertinggal. Oleh sebab itu perlu adanya inovasi di bidang pendidikan, namun semua hal itu, guru merupakan faktor yang sangat penting.
1.2. TUJUAN
Sebagai seorang guru profesional yang memiliki kompetensi di berbagai bidang, baik kepribadian, paedagogik, sosial dan profesional, dituntut lebih dari itu. Agar pendidikan Indonesia lebih maju di masa yang akan datang. Oleh karena itu penulis mencoba mengangkat makalah yang berjudul “Kompetensi Profesional dalam Profesionalisme Guru”, memiliki tujuan yakni:
a. Mendeskripsikan kompetensi-kompetensi yang harus ada pada seorang guru profesional.
b. Menjelaskan bagaimana Keprofesionalan seorang guru dalam melaksanakan dan menjalankan pendidikan dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa seperti yang tertera dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 pada alenia keempat.
c. Mencoba menelaah fenomena-fenomena yang ada yang berkaitan dengan profesionalisme guru dan bagaimana fenomena tersebut bisa terjadi, agar dapat dicegah untuk masa yang akan datang.
d. Dengan menyajikan berbagai cara atau usaha-usaha yang dapat dilakukan dalam mengembangkan dan meningkatkan keprofesionalismean seorang guru.
Dari semua tujuan di atas, akhirnya penulis berharap bahwa makalah ini dapat memberikan manfaat bagi para pembaca serta bagi penulis sendiri.

BAB II
KOMPETENSI PROFESIONAL DALAM PROFESIONALISME GURU
2.1. PENGERTIAN PROFESIONALISME
Sebuah pertanyaan yang mendasar, yaitu sejak kapan pendidikan itu ada? Hal yang cukup sederhana ini menjadi berbagai pertanyaan yng berkaitan dengan pendidikan serta fenomena-fenomena selama ini. Namun dari pertanyaan tersebut dapat dikatakan bahwa pendidikan itu ada sejak manusia itu ada. Karena manusia tidak hanya akan seperti itu saja sampai ia mati, namun ia sangat membutuhkan pendidikan. Guru merupakan orang yang sangat berpengaruh dalam pendidikan tersebut. Di dalam UU no.14 tahun 2005 tentang guru dan dosen, Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah.
Sebagai seorang guru tentunya harus mengetahui bagaimana peserta didiknya. Setiap guru akan mempunyai pengarh terhadap pesertadidiknya, pengaruh tersebut ada yang terjadi melalui pendidikan dan pengajaran yang dilakukan dengan sengaja dan ada pula yang terjadi secara tidak sengaja bahkan tidak disadari guru, melalui sikap, gaya dan macam-macam penampilan kepribadian guru. Dari sanalah datang kata profesionalisme seorang guru dalam melaksanakan dan menjalakan pendidikan.
Secara bahasa, profesionalisme berasal dari kata profesi yang artinya suatu bidang pekerjaan yang ingin atau akan ditekuni oleh seseorang. Menurut Webstar sebagaimana yang dikutip oleh Kunandar (2010 : 45), profesi juga dapat diartikan suatu jabatan atau pekerjaan tertentu yang mensyaratkan pengetahuan dan keterampilan khusus yang diperoleh dari pendidikan akademis yang intensif. Jadi profesi adalah suatu pekerjaan atau jabatan yang menuntut keahlian tertentu. Menurut UU no. 14 Tahun 2005 tentang guru dan dosen, profesional adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan, yang memerlukan keahlian, kemahiran atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi.
Sementara itu yang dimaksud dengan profesionalisme adalah kondisi, arah, nilai, tujuan, dan kualitas suatu keahlian dan kewenangan yang berkaitan dengan mata pencaharian seseorang. Profesionalisme guru merupakan kondisi, arah, tujuan, dan kualitas suatu keahlian dan kewenagan dalam bidang pendidikan dan pengajaran yang berkaitan dengan pekerjaan seseorang yang menjadi mata pencahariannya. Dari pengertian tersebut, maka guru yang profesional adalah guru yang memiliki kompetensi yang dipersyaratkan untuk melakukan tugas pendidikan dan pengajaran.
Dari pengertian guru profesional itu, maka seorang guru tidak muncul sebagai pengajar (teacher), namun beralih sebagai pelatih (coach), pembimbing (conselor), dan manajer belajar (learning manajer). Kompetensi yang dirsyaratkan merupakan hal berkaitan dengan bagaiman kemampuan seorang guru dalam melaksakan tugas dan menempatkan dirinya sebagai guru di tengah-tengah masyarakat.

2.2. KOMPETENSI PROFESIONAL
Kompetensi sebagai syarat guru profesional memiliki pengertian, sebagaimana Usman yang dikutip oleh Kunandar (2010 : 51), kompetensi adalah suatu hal yang menggambarkan kualifikasi atau kemampuan atau kemampuan seseorang, baik yang kualitatif maupun yang kuantitatif. Sedangkan menurut Houton, kompetensi adalah suatu tugas memadai atau pemilikan pengtahuan, keterampilan dan kemampuan yang ditunutut oleh jabatan tertentu. Sedangkan UU no. 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen menjelaskan bahwa kompetensi adalah seperangkat pengetahuan dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati dan dikuasai oleh guru atau dosen dalam melaksanakan tugas keprofesionalan.
Dari pengertian tersebut jelaslah tergambar bahwa seorang guru yang profesional harus memilik kompetensi atau kemampuan dalam melaksanakan tugasnya. Lebih lanjut, Godon dan Mulyasa (2005), sebagaimana yang dikutip oleh Kuanandar (2010 : 53) merinci aspek atau ranah yang ada dalam konsep kompetensi, yakni,
1. Pengetahuan (knowledge), yaitu kesadarn dalam bidang kognitif.
2. Pemahaman (understanding), kedalaman kognitif dan afektif yang dimiliki oleh individu.
3. Kemampuan (skill), yaitu sesuatu yang dimiliki oleh seseorang untuk melakukan tugas atau pekerjaan yang dibebankan kepadanya.
4. Nilai, yaitu suatu standar perilaku yang telah diyakini dan secara psikologis telah menyatu dalam diri seseorang.
5. Sikap, yaitu perasaan (senang-tidak senang) atau reaksi terhadap suatu rangsangan yang datang dari luar.
6. Minat (interest), yaitu kecenderungan seseorang untuk melakukan suatu perbuatan.
Menurut Soedijarto sebagaimana yang dikutip oleh Fitrianur, Guru yang memiliki kompetensi profesional perlu menguasai antara lain :
(a) Disiplin ilmu pengetahuan sebagai sumber bahan pelajaran,
(b) Bahan ajar yang diajarkan,
(c) Pengetahuan tentang karakteristik siswa,
(d) Pengetahuan tentang filsafat dan tujuan pendidikan
(e) Pengetahuan serta penguasaan metode dan model mengajar,
(f) Penguasaan terhadap prinsip-prinsip teknologi pembelajaran,
(g) Pengetahuan terhadap penilaian, dan mampu merencanakan, memimpin, guna kelancaran proses pendidikan.
Sebagaimana di dalam UU no. 19 tahun 2005 tentang guru dan dosen pada pasal 28 ayat 1 menyatakan bahwa pendidik harus memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Kompetensi pada hakekatnya terdiri atas aspek kognitif, psikomotorik, dan afektif. Lebih khusus berkenaan dengan kompetensi guru , pada RPP Guru, pasal 4 ayat (2) dinyatakan bahwa kompetensi guru terdiri dari atas empat komponen, yairu (1) kompetensi profesional, (2) kompetensi pedagogik, (3) kompetensi sosial dan (4) kompetensi personal atau kepribadian. Secara keseluruhan standar kompetensi guru terdiri dari tujuh kompetensi, yaitu (1) penyusunan rencana pembelajaran, (2) pelaksanaan interaksi belajar mengajar, (3) penilaian prestasi belajar peserta didik, (4) mengembangkan profesi, (5) pelaksanna tindak lanjut hasil penilaian prestasi belajar peserta didik, (6) pemahaman wawasan pendidik, (7) penguasaan ahan kajian akademik.
Sebagaimana yang telah dijelaskan diatas, ada beberapa kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru yang profesional. Kompetensi profesional merupakan satu di antara empat kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru profesional. Adapun yang dimaksud dengan kompetensi profesional adalah kemampuan guru dan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam, yang mencakup penguasaan materi kurikulum mata pelajaran di sekolah dan substansi keilmuan yang menaungi materinya, serta penguasaan terhadap struktur dan metodologi keilmuannya.
Adapun sub kompetensi dan indikatornya adalah sebagai berikut :
1. Menguasai substansi keilmuan yang terkait dengan bidang studi. Subkompetensi ini memiliki indikator yakni:
a. Memahami materi ajar yang ada dalam kurikulum sekolah
b. Memahami struktur, konsep dan metode keilmuan yang manungi atau koheren dengan materi ajar.
c. Memahami hubungan konsep antar pelajaran yang terkait.
d. Menerapkan konsep-konsep keilmuan dalam kehidupan sehari-hari.
2. Menguasai struktur dan metode keilmuan. Adapun indikator pada subkompetensi ini adalah menguasai langkah-langkah penelitian dan kajian teoritis untuk memperdalam pengetahuan atau materi bidang studi.
Dari kedua subkompetensi yang telah dijelaskan diatas tampaklah bahwa seorang guru yang profesional harus menguasai materi yang akan ia ajarkan kepada peserta didik. Sehingga ia dapat membimbing peserta didik dalam melaksanakan pembelajaran.
Menurut Kunandar (2010: 78) standar kompetensi inti pendidik di antaranya adalah menguasai materi, konsep serta keilmuan yang mendukung bidang yang diampu serta mengembangkan materi bidang pengembangan yang diampu secara kreatif. Di sini guru tidak hanya dituntut untuk memahami materi saja, namun lebih dari itu, seorang guru dituntut untuk mampu mengembangkan materi pembelajaran secara kreatif. Menggunakan situasi dan kondisi yang ada di sekitar lingkungan sekolah itu, merupakan hal yang sangat diperlukan oleh seorang guru, sehingga ia bisa menciptakan pembelajaran yang kreatif.
2.3. MASALAH DAN PENYELESIAN
Sebagaimana yang dijelaskan pada pembahasan sebelumnya, seorang yang profesional harus meiliki kompetensi. Kompetensi profesional adalah satu di antara kompetensi yang harus dikuasai oleh seorang guru yang profesional. Namun realitas menunjukkan bahwa mutu guru di Indonesia masih memprihatinkan. Input guru di Indonesia sangat rendah. Data Balitbang Depdiknas (1999) menunjukkan dari peserta tes calon guru PNS setelah dilakukan tes bidang studi ternyata rata-rata skor tes seleksinya sangat rendah. Dari 6.164 calon guru Biologi ketika dites Biologi rata-rata skornya hanya 44,49; dari 396 calon guru Kimia ketika dites Kimia rata-rata skornya hanya 43,55; dari 7.558 calon guru Bahasa Inggris rata-rata skonya hanya 37,57; dari 7.863 calon guru Matematika ketika dites Matematika rata-rata skornya hanya 27,67; dan dari 1.164 calon guru Fisika ketika dites Fisika rat-rata skornya hanya 27,35. Data Balitbang Depdiknas tahun 2001 juga menunjukkan guru SD (negeri dan swasta) yang dinilai layak mengajar hanya 38 persen dari 1.141.168 guru se-Indonesia. Begitu pula untuk jenjang menengah, jumlah guru yang dinilai lanyak mengajar masih dibawah 70 persen. (Kompas, 25 Januari 2004)
Dari data tersebut dapat kita lihat bahwa mutu pendidikan Indonesia masih rendah dengan masih rendahnya mutu guru yang memiliki kompetensi di bidang akademik atau kompetensi profesional. Pada data pertama menunjukkan bahwa para calon guru yang mengikuti tes bidang akademik, masih memiliki permasalahan yakni kurangnya konsep pada bidang keilmuan yang diampu oleh guru tersebut. Sedangkan persyaratan seorang guru yang profesional adalah menguasai materi, konsep serta keilmuan yang ia tekuni di bidangnya.
Jika kita lihat ke lapangan, bahwa masih ada guru yang mengajarkan suatu bidang studi walaupun ia tidak berada pada bidang studi itu. Dan hal ini akan semakin parah lagi, dan bisa saja membuat missunderstanding peserta didiknya terhadap materi yang ia pelajari. Oleh karena itu, sebagai satu di antara beberapa cara penyelesaiannya adalah dengan cara menempatkan guru berdasarkan bidang keilmuan yang ia kuasai. Barang kali sekolah juga membutuhkan guru dan kekurangan tenaga pendidik, sehingga pihak sekolah menyiasati dengan menempatkan guru bukan pada tempat seharusnya ia kuasai. Walaupun ia paham, namun masih ada kekurangan guru yang bukan pada bidangnya dalam mengajarkannya. Dalam hal ini, penulis pernah melihat seorang guru Pendidikan Agama Islam mengajarkan Bahasa Inggris, sebab pihak sekolah meminta guru tersebut untuk mengajarakan Bahasa Inggris. Namun hal ini akan menambah permasalahan dalam bidang pendidikan di Indonesia.
Dari semua permasalan ini merupakan sebagai bukti bahwa peringkat pendidikan Indonesia di dunia menempati peringkat 68 dari 113 negara yang ada menurut PBB. Dari semua permasalahan ini dapat kita tingkatkan dengan berbagai cara, adapun di antaranya :
1. Pengembangan Standar Profesional
Yang terdiri dari kompetensi pedagogik, profesional, kepribadian dan sosial, upaya yang ini diperlukan untuk memantapkan formulasi kompetensi, sehingga memiliki nilai-nilai yang lebih fungsional.
2. Pengujian Kompetensi, baik Guru lama maupun Guru Baru
Untuk menjamin nilai profesionalisme guru, pengujian guru perlu dilakukan baik terhadap guru lama maupun baru, sehingga kompetensi selalu terjaga relevansinya. Hal ini berlaku seperti sekarang, bahwa untuk memulai proses pemilikan sertifikat pendidik, sebagai bukti guru yang profesional, maka semua guru harus melalui proses ujian. Untuk guru dalam jabatan menggunakan portofolio, dan untuk guru pra jabatan akan diberlakukan program pendidikan profesi.
3. Menekankan Kualitas Guru daripada Kuantitas
Walaupun dalam batas tertentu, kuantitas guru itu diperlukan, ketersediaan guru memang sangat penting terutama di aderah-daerah tertentu, apakah daerah terpencil, daerah perbatasan, namun yang jauh lebih penting adalah kualitas guru, sehingga diharapkan kehadiran mereka dapat menunjang peningkatan kualitas pendidikan.
4. Evaluasi Kompetensi Guru secara Periodik
Untuik menjamin profesionlisme seorang guru, dirasakan perlu sekali dilakukan evaluasi secara periodik., sehingga kevalidan sertifikat pendidik tetap terjaga. Memang upaya ini untuk konteks di Indonesia rasanya berat sekali, mengingat untuk membuat semua guru harus bersertifikat pendidik saja diperlukan biaya yang sangat besar.
5. Pengembangan Profesional ( Inservice Training )
Mengingat kebutuhan dan tuntutan lapangan dan stakeholders itu terus berubah dan meningkat, maka pengembangan profesional yang berupa inservice training merupakan suatu kebutuhan yang tak bisa dihindari
6. Penegakkan Kode Etik
Keberlangsungan suatu profesi pada hakekatnya sangat bertumpu pada kode etik, sehingga organisasi profesi harus benar-benar fungsional. Jika PGRI berkeyakinan mampu membawa misi profesionalisme lebih tinggi daripada misi lainya (katakanlah misi politis), maka sudah sepatutnyalah PGRI harus mengawal penegakan kode etik, namun jika tidak mampu mengedepankan misi profesionlisme, maka sebaiknya dirintis organisasi profesi lainya.
Dari semua usaha yang ada tersebut, diharapkan paradigma guru untuk masa yang akan datang lebih baik lagi. Selain itu, sertifikasi, peningkatan mutu pendidikan di perguruan tinggi, tarining, serta penataran dapat ditingkatkan dalam menunjang usaha untuk meningkatkan profesionalisme guru. Sehingga pendidikan di Indonesia semakin maju dan berkembang untuk masa yang akan datang, diiringi meningkatnya mutu sumber daya manusia Indonesia di masa yang akan datang.

BAB III
KESIMPULAN
Dari semua penjabaran tentang kompetensi profesional dalam profesionalisme guru ini, dapat disimpulkan bahwa menjadikan seorang guru yang profesinal tidak hanya cukup dengan hanya menuasai materi atau bidan ilmu yang akan ia ajarkan, namun ada empat kompetensi utama sabagai syarat seorang guru yang profesional, yaitu :
1. Kompetensi Pedagogik, yaitu meliputi pemahaman terhadap peserta didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajardan mengembangkan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.
2. Kompetensi kepribadian, yaitu kemampuan personal yang mencerminkan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik dan berakhlak mulia .
3. Kompetensi profesional, yaitu penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam, yang mencakup penguasaan materi kurikulum mata pelajaran di sekolah dan substansi keilmuan yang menaungi materinya, serta penguasaan terhadap struktur dan metodologi keilmuannya.
4. Kompetensi sosial, yaitu kemampuan guru dalam berinteraksi dengan peserta didik, orang tua siswa, serta masyarakat di sekita lingkungannya.
Dari semua penjabaran makalah ini, diharapkan kepada semua guru agar selalu berusaha melaksanakan pendidikan tidak hanya terpaku pada satu kompetensi saja, namun, semua kompetensi tersebut saling terkait satu sama lain. Sebab pendidikan tidak akan berjalan dengan baik apabila guru tidak memahami peserta didiknya serta tidak menguasai materi yang akan ia ajarkan, dengan harapan agar menjadi guru yang profesional, serta sesuai dengan pembukaan UUD 1945 alenia keempat yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa.
DAFTAR PUSTAKA

Darajat, Zakiah. 1980.Kepribadian Guru. Jakarta : Bulan Bintang.
Gredler, Margaret E. Bell. 1991. Belajar dan Membelajarkan. Jakarta : Rajawali.
Kunandar. 2007. Guru Profesional Implementasi Krikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan Sukses dalam Sertifikasi Guru. Jakarta : Grafindo Persada.
Undang-Undang RI Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen
http://hajatinubochari.blogspot.com/2009/01/profesionalisme-dan-kompetensi-guru.html
http://www.tarakankota.go.id/in/Rubrik_Kita.php?op=tarakan&mid=231
http://gurukreatif.wordpress.com/2009/11/06/10-ciri-guru-profesional/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s