Filsafat helenisme dan scholastik

I. Hellenisme romawi.
Nama kuno bagi bangsa yunani disebut hellennes, karena keturuna hellen. Hellenisme ialah nama untuk kebudayaan, pemikiran, falsafah, cita-cita dan cara hidup orang yunani.
Istilah hellenisme romawi secara sederhana dapat diartikan sebagai percampuran antara kebudayaan yunani dengan dunia timur atau kerajaan romawi. Hal ini terjadi karena jasa Alexander the great raja mecedonia yang telah berhasil bukan saja mempersatukan negara-negara sparta dan athena menjadi yunani di bawah satu negara yaitu macedonia, tetapi lebih dari itu telah berhasil pula menaklukkan beberapa negara timur seperti asia kecil, syriya, mesir, babylonia, persia, samarkand dan punjat di india.
Masa ini dimulai dari akhir abad ke VI sebelum masehi, yang meliputi daerah:
1. di bizantium dan roma sampai abad VI masehi.
2. di iskandariyah sampai abad VII masehi.
3. di siria dan irak pada sekolah-sekolah urfa, ar-ruha Nissibis dan antiochia sampai abad VIII masehi atau sampai pada masa keemasan islam dan masa kegiatan ilmu pengetahuan dengan cara menterjemahkan buku-buku asing ke dalam islam yang sering disebut penterjemahan ke dalam bahasa arab, antara lain penterjemahan falsafah yunani ke dalam bahasa Arab.
Aliran hellennisme tersebut dapat dibagi kepada tiga fase:
Fase pertama
Fase pertama ini mulai dari abad ke VI sampai pertengahan abad I sebelum masehi, aliran-aliran yang terdapat pada fase pertama ini antara lain :
1. Aliran Epikuros.
2. Aliran Stoa.
3. Aliran Skeptis.
4. Aliran Eklektika Pertama (aliran seleksi)
Fase kedua
Fase kedua ini mulai dari pertengahan abad I SM samapai pertengahan abad III M, Aliran falsafah yang terdapat pada fase ini:
1. Parepetetik terkahir.
2. stoa baru.
3. epikuros baru.
4. pithagoras baru.
Fase ketiga
Fase ketiga ini dimulai dari abad III M sampai pertengahan Abad VI M di byzantium dan roma sampai pertengahan abad ke VI romawi dan VII di iskandariyah dan di asia kecil. Aliran-aliran pada fase ini :
1. Neo-Platonisme.
2. Iskandariyah.
3. Antiocia, Harran, al Ruha dan Nissibis.

A. Fase Pertama
1. Aliran Epikkuros
Epikuros yang mempelopori Aliran ini lahir di Somos pada tahun 341 SM. Ayahnya seorang kolonis Athena yang miskin di Samos. Ia mula-mula mempelajari falsafah sewaktu ia berumur 14 tahun kepada seorang pongikut domokratis yaitu Nausiphanese.
L o g i k a
Dalam masalah logika, epikuros tidak sependapat dengan aristoteles. Epikuros mengambil dasar pengetahuannya dari hasil pengalaman, bukan dari akal/ rasio seperti aristoteles. Menurutnya dalil-dalil logika itu tidak bisa menggantikan pengetahuan yang diperdapat dengan pengalaman.
E t i k a
Adapu pembahasan etika bagi epikuros hanya untuk mencari kesenangan hidup. Kesenangan hidup berarti kesenangan badaniyah dan rohaniyah, badan merasa enak, jiwa merasa tentram. Rasa enak adalah nilai yang setinggi-tingginya dan menentukan baik dan jahat. Bagi epikuros orang yang bisa mengendalika nafsunya dianggap orang yang paling bijaksana.
Agama, nasib, dan mati
Bagi epikuros agama adalah sumber kekuatan yang selalu mengancam manusia. Karena orang-orang grik banyak yang takut terhadap tuhan yang menjadi penghalang untuk memperoleh kesenangan hidup. Ini sangat berbeda dengan islam, yahudi dan nasrani yang menganggap tuhan sebagai tempat yang disenangi dan mengadukan nasib dan yang memberikan rahmat dan nikmatnya.
Agama bagi epikuros menceritakan bahwa kematian itu sesuatu yang mengerikan, dan agama memperkuat pendapat bahwa orang yang mati tidak bahagia. Takut terhadap nasib juga penghalang untuk memperoleh kesenangan hidup.
2. Aliran Stoa.
Tokoh aliran Stoa bernama Zeno, ia dilahirkan di citium ( di pulau cyprus ) tahun 336 SM. Keluarganya yang berkecimpung dengan perdagangan membawanya sampai ke Athena. Sikap Hidup Zeni menyerupai sikap hidup socrates yang masih trgambar dalam ingatan orang yunani sehingga ia dihormati masyarakat.
L o g i k a
Berbicara mengenai logika, menurut pendapat mereka bahwa logika berguna untuk memperoleh kriteria umum tentang kebenaran yang dicapai oleh akal, tetapi hal ini tidak dapat dipisahkan dari pengalaman. Jadi aliran ini seirama Dengan aliran epikuros yang mengambil pengetahuan dari akal bukan dari logika.
A g a m a
Kaum stoa adalah kelompok materialais sehingga segala sesuatu itu mempunyai tubuh, walaupun sesuatu itu tidak tampak seperti halnya tuhan. Walaupun kaum stoa percaya bahwa tuhan yang mengatur alam ini, tetapi mereka menyamakan konsep antara tuhan dengan alam ini, ini disebabkan karena mereka tidak mau menerima konsep-konsep logika yang pernah dikemukakan oleh Arisroteles, terutama tentang pengertian, pembatasan, atau definisi.
E t i k a
Menurut kaum stoa untuk mencari manusia yang sempurna itu sangat sulit. Menurut kaum stoa orang yang sempurna itu ialah seorang yang benar-benar bijksana tidak ada orang lain sebebas dan sekanyanya.
3. Aliran Skeptis.
Skeptis suatu aliran yang mengjarkan bahwa kebenaran tidak dapa diduga, harus sangsi ( ragu ) terhadap yang dikatakan orang benar. Sehingga aliran ini tidak mmenerima ajaran-ajaran filosof masa lampau.
Penyebab orang tidak bahagia karena ia mengira mepunyai pengetahuan yang benar dan pasti, ternyata ia keliru.
Aliran ini dipelopori oleh dua orang filosof yaitu phyron dan arkosilaos.
1. Pyrrhon
Pyrrhom lahir di elis pada tahun 360 Sm. Dan meninggal pada tahun 270 SM. Menurutnya, kebenaran itu ada dimana saja dan kapan saja, dengan ketentuan bila seseorang mau mencari yang benar itu dan tidak sangsi akan adanya kebenaran, apakah dengan defenisi syllogisme dan lain sebagainya.
2. Arkesilaos
Arkesilaos lahir pada tahun 315 SM dan meninggal dunia pada tahun 214 SM. Falsafahnya bersumber pada falsafah plato, mengenai teori bayang-bayang dari plato atau teori idenya dilanjutkan oleh arkesiolas. Kata arkesiolas dunia yang kelihatan ini adalah gambaran dari yang asli, bahwa pengetahuan yang didapat dari penglihatan dan pemandangan adalah byangan pengetahuan yang sebenarnya.
3. Karneades
Ia hidup dari tahun 214 SM sampai 129 SM, dia adalah seorang yang menghidupkan kembali ajaran falsafah arkesilaos yang kalah bersaing dengan pengikut epikuros dan stoa.
Karnaedes mengatakan bahwa kriterium sebagai kebenaran tidak ada. Pemandangan-pemandangan tidak dapat membedakan dengan sesungguhnya antara pandangan yang benar dan salah, perlu adanya keterangan-keterangan, keterangan itu mebutuhkan keterangan lain, sehingga tidak berhasil.
B. Fase Kedua.
1. Stoa Baru
Stoa baru ialah suatu aliran yang melanjutkan ajaran zeno, Cleanthes dari asses pengganti langsung dari zeno. Setelah cleanthes pimpinan Stoa Baru digantikan oleh chrysippus 280-207 SM. Chrysippus membuat logika menjadi fundamentatif. Ia mengatakan bahwa filsafat adalah seperti suatu taman bunga dimana logika merupakan dinding pagar, ilmu fisika tanam-tanaman dan etika buahnya, atau seerti telur dimana lagika adalah kulit, fisika putih telur dan etika kuningnya.
2. Pythagoras Baru.
Aliran ini disebut pythagoras baru karena ajaranya berpangkal pada ajaran pythagoras yang masyhur dengan falsafah akhlak atau pensucian roh serta falsafah alamnya yang masyhur atau falsafah bilangan.
Aliran ini mengatakan untuk mendidik perasaan cinta dan mengabdi kepada tuhan, orang harus menghidupkan dalam perasaanya jarak jauh antara tuhan dengan manusia. Makin besar jarak itu, makin besar cinta dan makin kuat keinginan untuk mendekatkan diri kepada tuhan yang jauh itu.
Pelopor aliran phytagoras baru ini ialah Moderatus yang hidup pada abad pertama masehi dari gedes dan diteruskan oleh Nicomaches dari gerasa di semenanjung arabia dan noumenic dari apamea, kedua-duanya hidup dalam abad kedua sebelum masehi.
C. Fase Ketiga
1. Neo-platonisme
Aliaran neo-platonisme bagian yang terakhir dari falsafah yunani, bedanya terdapat unsur-unsur platonisme, phytagoras, aristoteles, stoa, dan tasawuf timur, dan mengandung unsur-unsur keagamaan. Pada aliran ini, lebih banyak mengulang falsafah-falsafah lama dan memiliki ciri-ciri yang kadang-kadang bertentangan dengan agama yahudi dan kristen yang berkembang di kala itu.
Plotinus adalah pendiri neo-platonisme. Falsafah yang mula dipelajarinya adalah falsafah yunani buah tangan plato. Setelah ia berumur 40 tahun ia pergi ke roma dengan tekun memperdalam pengetahuannya tentang falsafah. Di kala usianya mencapai 50 tahun, pendapat-pendapat yang disajikannya daln meberikan pelajaran adalah pengetahuan yang di dapatnya dari ammonius sakkas yang dipelajarinya dikala ia berumur 20 tahun.
Falsafah Plotinus
Menurut Dr. Muhammad AL Bahy dalam bukunya al janibullahi min al tafkiri al islami, bahwa pembahasan falsafah politinus tentang ada meliputi empat permasalahan:
a. al awwal ( yang asalnya )
b. al aqal
c. nafs al alam
d. al maddah
Al- awwal ( yang asal )
Membicrakan yang asal dari politinus eat hubungannya denan falsafah plato tentang “idea” dan falsafah netafisika aristoteles. Plato dalam pembahasannya berusaha
2. Iskandariyah
3. Antiocia, al Ruha, Nissibis

II. Scholastik

Fase kedua Kristen adalah filsafat skolastik. Fase ini dimulai semenjak abad ke-8 M hingga abad ke-14 M, menjelang kebangkitan. Tetapi permulaan dan masa akhir fase ini tidak memiliki batas yabng jelas. Fase skolastik diawali dengan penyebaran kebudayaan latin ke Utara dan perubahan Jerman dari Paganisme menjadi Kristen . Perubahan ini terjadi pada masa perpindahahn Kristen dari Eropa selatan sepanjang abad ke-8. Selama itu tidak pernah terdengar inovasi di bidang filsafat.
Kelompok Patrisme berkembang mulai abad 1 sampai 5 M. Kemudian pada abad 6 dan 7 , seiring dengan kekacauan politik menyebabkan terjadinya imigrasi besar-besaran sehingga perhatian kepada ilmu dan filsafat terhenti. Kegiatan filsafat baru muncul kembali pada abad ke 8, yaitu pada masa kekuasaan Karel Agung (742-824 M), dan sejak ini filsafat Kristen berobah nama menjadi skolastik. Skolastik berasal dari bahasa latin “scholasticus” yang berarti murid, sebagi suatu gerakan filasafat dan keagamaan yang berupaya mengadakan sintesa antara akal budi manusia dengan keimanan.atau menerapakan metafisikan Yunani dalam keyakinan Klristiani. Metode yang digunakan adalah disputatio, yaitu membandingkan argumentasi di antara yang pro dan kontra (sic et non).
Istilah ini pertama kali muncul di Ghalia dengan tokohnya Abaelardus, Anselmus, Petrus Lombardus, dan mengalami kejayaan pada abad 12 dengan tokohnya Thomas Aquinas, Beraventura, Dun schotus dan Okham.
Adapun tokoh dan pemikiran tetan skolastik yakni serbagai berikut.
1. Anelmus (1033-1109)
Anelmus berasal dari Aosta, Piemont. Kedalaman pengetahuan keagamaannya meyababkan beliau diangkat menjadi uskup di Canterbury. Itulah sebabnya namanya selalu disebut dengan nama kotanya (Canterbuty). Ia adalah filsuf besar yang produktif. Di antara karya terpentingnya adalah “Curdeus homo” (mengapa Allah menciptakan manusia).
Filsafat utamanya ialah tentang iman dan pengetahuan. Menurutnya, keduanya harus selalu dipadukan, sehingga mampu menjembatani antara pengetahuan beradasarkan akal budi dengan pengetahuan atas dasar wahyu. Ungkapan yang seiring diajukan adalah credo ut intellectum (aku percaya untuk mengerti), dan kemudian sampai tesis baru, yaitu fides quaerens intellectum (iman itu berusaha mengerti). Dari ungkapan tersebut, bahwa ia selalu berpijak pada konsep kepercayaan yang kemudian dirumuskan sehingga menimbulkan (melahirkan) pemahaman. Artinya, kedudukan wahyu selalu menjadi posisi utama baru logos atau pengetahuan.
Oleh karena itu, peran akal akal atau filsafat ialah dalam upaya pendalaman pengetahuan tentang Tuhan dan segala objek pikiran. Apabila iman telah memberi orang Kristen pemahaman akan dunia, maka iman yang disertai dengan pemikiran memberi manusia pengertian yang lebih mendalam lagi tetang manusia, alam, dan Tuhan.untuk membuktiakn adanya Tuhan, ia mengajukan arguman tetang yang ada (argumentum ontologicum). Menurut argumen ini, segala yang ada di alam raya dapat dibagi menjadi dua, yaitu ada dengan sendirinya, yaitu Tuhan dan ada karena diadakan, yatiu selain Tuhan.
Selanjutnya Anelmus memedakan ada kepada dua, yaitu ada dalam pemikiran (exist in understanding) dan ada dalam kenyataan (exist in reality). Ia bekomentar :

For, when he hears of this, he understand it. and whatever is understoods, exist in the understanding. And assuradly that, than which nothing greater can conceive, cannot exist in understanding alone : for, suppose it exist in the understnding alone, than it can be conceive to exist in reality, which is greater.
Karena apabila ia mendengar tentang ini, ia dapat memahaminya. Dan apapun yang dapat dipahami, berarti ada dalam pikiran. Dan dapat dipastikan bahwa sesuatu yang wujud yang tidak dibayangkan ada yang lebih bessar dari padanya, tidak hanya pemikiran saja, maka dapat dibayangkan akan dapat dalam kenyataanapa yang lebih besar dari padanya
Tuhan menurut Anelmus, selain ada dalam pemikiran juga ada dalam keyataan.keberaan Tuhan dalam kenyataan dalam arti, bahwa ia diyakini adanya dalam sejaraha kemanusiaan, sebagai pemberi kebijakan, kebaikan, kekuatan, cinta, dan keberuntungan.
2. Albertus Agung (1206-1280)
Beliau berasal dari Lauingen, Jerman. Pemikirannya tentang iman/teologi dan filsafat berbeda dengan dengan filsuf sebelumnya., termasuk Anelmus. Menurutnya, antara teologi dan filsafat harus dibedakan sesuai dengan bidangnya masing-masing. Kebenaran teologi (iman) hanuya berdasarkan perasaan tanpa akal, sedang filsafat berdasarkan akal semata. Namun demikian, keduanya mempunyai titik singgung yaitu sama-sama merumuskan dan membicarakan tentang kebenaran.
Tentang penciptaan alam, beliau berpegang pada keyakinan agam yang mengatakan bahwa alam diciptakan dari tiada, bukan berpegang pada teori emanasi Neplatonisme, yaitu pandangan bahwa alam alam tercipta melalui pancaran kesempurnaan Tuhan . untuk memungkinkan pemahaman akan keberadaan Tuhan dan penciptaan alam, ia membagi pengertian kepada tiga bentuk, yaitu :
1. Bentuk pertama yang ada dalam ide Tuhan
2. Bentuk kedua yang telah terwujud dalam alam empiris
3. Yang dihasilkan oleh abstraksi manusia melalui pemikirannya

3. Thomas Aquinas (1225 – 1274)
Beliau berasal dari Rocca, Italia selatan. Seperti juga gurunya Albertus, pemikiran kefilsafatannya bersifat teologis, dimana upaya pemaduan di antara teologi (iman) dengan filsafat. Untuk upaya ini, pemikiran pertama yang muncul ialah memposisikan wahyu dan pikiran di dalam memproduksi pengetahuan. Dalam kaitan ini, beliau membagi pengetahuan kepada dua macam, yaitu :
1. Pengetahuan insani, yang diperoleh melaui akal manusiaq de3ngan pemikiran kefilsafatan dalam hal-hasl yang bersifat alami.
2. Pengetahuan teologis, yang diperoleh melaui informasi wahyu.
Adapu pembuktian Tuhan dapat dirumuskan pada lima argumen sebagai berikut :
I. Di dalam dunia empiris terdapat hal-hal yang mungkin ada dan mungkin tiada. Adanya sesuatu itu dari tiada tentu disebabkan oleh dirinya, tetapi dari unsur lain, yaoitu Tuhan.
II. Di dalam kehidupan selalu terdapat tingkatan tentang yang baik (baik, lebih baik, kurang baik), begitu jugadengan buruk. Adanya tingkatan itu tentu tidak lahirnya dengan sendirinya, melainkan adanya pengatur yaitu Tuhan.
III. Diarahkannya sesutau terhadap ciptraan yang tidak berakal, tetapi memiliki kekuatan, hal ini terjadi oleh tokoh yang berakal dan berpengetahuan, yaitu Tuhan.
IV. Adanya sebab di dunia ini menyebabkan adanya akibat.
V. Adanya gerak mengharuskan adanya yang menggerakkan.
Ubtuk memudahkan pemahaman tersebut adanya tiga perantara :
1. Via Positiva, yaitu adanay kumpulan positif di dunia ini dapat dijadikan sebagai suatu model terhadap adanya Tuhan, juga mempunyai kebikan.
2. Via Negativa, yaitu di samping yang negatif dalam kehidupan menusia tetu ada nilai kebikannya yaitu Tuhan. Karena itu, Tuhan selain Yang Baik juga sebagai sumber kebaikan.
3. Via Aminen Tiae, yaitu apabila makhluk bisa berbuat baik, tentu saja Tuhan lebih bisa lagi melakukannya. Dengan demikan Tuhan pasti ada.
Adanya tentang manusia, pemikiran Thomas Auinas merupajkan kelanjutan datri pemikiran Aristoteles, yang membagi manusia kepada dua bagian, yaitu materi (badan) dan bentuk (jiwa). Kedua unsur ini merupakan suatu kesatruan yang tak terpisahkan. Untuk menjelaskankesatuasn dua bagian di atas. Beliau memberi arti sebagi “Daya penggerak yang menjadikan tubuh dapat merealisasikan potensinya (memproyeksikan aktifitas tubuh melaui tingakh laku).
Dalam kaitannya baliau membagi daya jiwa kepada lima bagian :
1. Daya vegetatif = pembiakan manusia
2. Daya sensitif = daya yang menggerakkan manusia untuk memperoleh sesuatu
3. Daya penggerak = yang memikirkan segala sesuatu di luar manusia
4. Daya mengenal = yang berupaya memikirkan segala sesuatu secara benar.
Demikian dapat disimpulkan bahwa kajian dari para tokoh tersebut, yang paling utama ialah upaya pendekatan filsafat dengan agama. Denga kata lain filsafat dijadikamn sebagai penopang kebenaran agama, sehingga keberadaannya diterima oleh masyarakat.
KESIMPULAN
Adapun dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa :
1. a
2. Bahwa kajian dari para tokoh tersebut, yang paling utama ialah upaya pendekatan filsafat dengan agama. Denga kata lain filsafat dijadikamn sebagai penopang kebenaran agama, sehingga keberadaannya diterima oleh masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA

Hasan bakti nasution, Filsafat Umum, (Jakarta : Gaya Media Pratama,2001)
Bambang Q-Anees, Radea Juli A.Hambali., Filsafat Untuk Umum,(Jakarta : Kencana, 2003

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s